Saturday, 21 July 2012
Mereka yang GILA atau kita yang TIDAK WARAS?
Di sekitar kita......
Kita pasti sering bertemu dengan sosok manusia yang kotor, dekil, kucel, bau.
Yang jelas tidak pernah mandi.
Baju compang camping nyaris hampir tak terlihat warna aslinya, atau...
Terkadang tidak memakai sehelai benangpun alias telanjang.
Sosok ini sering kita jumpai di mana saja
di pasar-pasar
di keramaian
di tepi jalan
di kolong jembatan
di sudut-sudut kota
Sosok ini kerap sekali kita jumpai dalam kehidupan kita berkegiatan di luar lingkungan rumah.
Ada yang kerjanya hanya mondar-mandir atau berjalan menusuri tepi jalan
Ada juga yang suka mengorek-mengorek sampah jika sedang lapar
Ada juga yang berharap belas kasihan dari orang-orang yang merasa WARAS
Ada juga yang bahkan suka mengganggu.
Apakah kita merasa terganggu? walau sesungguhnya dia tidak menggangu kita?
Sadarkah kita, bahwa sosok yang selama ini disebut orang GILA juga punya hak?
Hak untuk tetap diakui sebagai manusia.
Hak untuk dilepaskan dari berbagai tekanan
Hak untuk dipelihara
Hak untuk kembali waras
Mestinya dia mendapatkan perhatian dan perlindungan dari pemerintah.
Bukankah di undang-undang ditorehkan
"Fakir miskin dan orang-orang terlantar dipelihara oleh negara?"
Lalu mengapa mereka terlantar?
Ternyata mereka benar-benar "dipelihara" untuk tetap terlantar.
Sebenarnya mereka tanggung jawab siapa?
Bukankah dia punya keluarga? Atau jangan-jangan dia masih sedarah dengan kita.
Mengapa mereka diterlantarkan?
Bisa gak kita bayangkan......
Saat kita tidur nyenyak di atas spring bed
Dia masih berebut lapak emperan toko untuk beristirahat
Saat kita sedang bermimpi indah?
Dia masih sibuk mencari kardus untuk alas tidurnya
Saat kita dibalut hangatnya bed cover
Dia sibuk mengusir nyamuk berselimutkan angin malam
Saat kita merasakan sejuknya AC yang sesungguhnya merusak ozon
Dia menggigil karena embun malam
Saat kita sedang asyik ngilerin bantal
Dia membantalkan telapak tanganya.
Saat kita bangun pagi dan disuguhkan segelas susu oleh pembantu
Dia terjaga oleh siraman air pemilik toko.
Sampai kapan dia akan terus terlantar?
Sampai kapan kita TIDAK WARAS?
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment