Hei Jawa, hei Cina...saya orang Batak.
Tahukah kalian, bahwa....
Pelangi itu indah, warna-warninya adalah simbol keanekaan.
Beraneka itu berarti berbeda-beda, bermacam-macam
Dan karena kata perbedaan itulah antonim persatuan.
Dan kesatuan adalah energi.
Bangsa kita ini sesungguhnya memiliki energi yang sangat besar. Bukan saja energi yang berasal dari kekayaan alamnya yang melimpah ruah. Tetapi bangsa ini juga memiliki energy sumber daya manusia yang jumlahnya sangat banyak
Energy yang lain juga melimpah-limpah. Seperti harta alam yang terkandung
di bawah tanahnya,
di belantara luasnya hutan tropisnya,
di bentangan bahari lautanya,
di bawah garis khatulistiwanya,
di bawah kesetiaan matahari menyinari alamnya setiap hari
Bangsa ini memiliki masyarakat yang sangat beraneka macam suku bangsa.
Bangsa ini memiliki kekayaan budaya dan seni yang tak terbilang angkanya.
Bangsa ini memiliki kearifan yang sangat luar biasa kandungan filosofinya.
Hei Jawa, hei Cina...kampung saya di tepi Danau Toba
Saya rindu makan tongseng di Surakarta,
Saya penasaran dengan Aling pada cerita laskar pelangi
Saya ingin sekali bertemu dan bercengkrama kembali dengan sahabat-sahabat di Palu
Saya tidak ingin menyelam di Bunaken hanya dalam mimpi
Saya merasa belum lengkap menjadi orang Indonesia, jika belum bertemu saudara-saudara kita di Papua
Sesungguhnya bangsa ini memiliki energi besar yang mampu membangun kesatuan hingga membentuk karakter kuat dan berdaulat.
Lalu kenapa kita begitu mudah tercerai berai, begitu mudah terbujuk rayuan gombal para investor
Sesungguhnya bangsa ini masih memiliki lahan yang tertidur pulas yang terbentang dari Sabang sampai Merauke.
Lalu mengapa kita harus berbondong-bondong ke kota meninggalkan sawah ladang di kampung?
Sesungghunya bangsa ini memiliki kekayaan alam yang tak akan membuat anak bangsanya kelaparan sampai delapan turunan lebih.
Lalu mengapa tidak kita kelola sendiri hingga lebih memilih menjadi budak di negeri orang?
Hei Jawa, hei Cina...seperempat abad lalu saya sering main bola plastik Taman Tugu Tani Gondangdia
Saya merasa saat itu Jakarta menjelang petang begitu nyaman untuk anak seumur saya naik sepeda dari Johar Baru dan bermain-main ke Tugu Monas. Berangkat melalui Kwitang dan kembali lewat Cikini melintasi Taman Ismail Marzuki.
Saya merasa di kala itu Cililitan adalah pinggiran kota Jakarta, karena selebihnya menuju selatan adalah cerita menuju Depok keluar dari kota Jakarta...alias jalur mudik bagi para perantau untuk pulang ke Jawa Barat bagian selatan. Melintasinya di saat magrib biasanya suara kodok bersahutan merdu terdengar dari rawa dan sawah di pinggir jalan sepanjang Jalan Raya Bogor.
Dua puluh lima tahun lamanya saya menghuni Kota ini.
Mulai dari cerita kelam tragedi Bintaro, proses pembangunan jalan bertingkat sepanjang by Pass, tanda tanya besar soal 27 July 1996, gejolak Mei '98, soal banjir bandang yang dianggap menjadi siklus 5 tahunan, soal maraknya tawuran antar pelajar dan antar warga yang terjadi turun temurun atau mewaris, hingga cerita macet yang merayap hingga puluhan kilo meter. Sudah menjadi cerita dinamis yang saya lalui selama menjadi warga Kota 'gila' ini
Jakarta katanya lebih kejam dari ibu tiri.
Energy negeri ini seakan hanya berpusat di Jakarta
Sehingga si Jawa, si Cina, si Batak datang berbondong-bondong ke kota yang tidak ramah ini.
Si Manado, si Ambon, si Papua menyeberangi lautan untuk menguji bagaimana hidup di kota yang sudah menjadi belantara beton ini.
Masih ada kah harapan?
Masih ada kah jalan keluar?
Masih ada kah langkah jitu untuk menyelesaikan persoalan Kota ini yang nyaris meng-anker.
Mau naik bus? aduh...udah mahal bergelantungan pula
Mau bawa motor? aduh..."dikentutin" asap tebal knalpot metromini, kopaja dan mayasari
Mau bawa mobil? aduh...udah macet betis pun harus dipijet di pantipijet, 'pengeluaran' lagi deh
Mau naik sepeda? edan,...jalurnya diserobot bajaj.
Mau jalan kaki? gawat, trotoar aja udah jadi lapak pedagang
Mau olah raga pagi? Ogah ah, ntar ditabrak mini bus yang pulang dugem lagi, mampus kan?
Mending pulang kampung aja deh.
Hey Jawa, Hey Cina, Sebenarnya Jakarta ini udah gila
Bayangin aja, banyak banget orang gila berkeliaran di pinggiran jalan di Ibukota ini. Itu pertanda Kota ini ternyata ada pada posisi tingkat stres yang sangat tinggi. Orang gila berseliweran di mana-mana. Entah dia yang gila atau kita yang tidak waras? ya saya kira sih sama saja. Bedanya adalah umumya orang gila karena depresi oleh tekanan dan kita tidak waras karena membiarkan makin banyak orang yang semakin tertekan.
Sadar gak sih kita tinggal di kota yang paling tergila di dunia?
Bagaimana gak gila?
Cuma di kota ini ada mini market yang suka head to head. Dimana buka indomart di depan bahkan di sampingnya tak lama lagi akan berdiri alfamart.
Cuma di kota ini ada pasar perkulakan modern tumbuh subur menyamai jamur, seperti Carefour, Giant, Hypermart, yang saling beradu pasang bill board se gede-gede lapangan bola.
Cuma di kota ini pengemis jauh lebih sejahtera daripada gaji UMK buruh pabrik bahkan lebih banyak penghasilanya daripada gaji seorang manajer restoran fast food yang diinvestasi oleh para cukong-cukong asing.
Cuma di kota ini jarak tempat hanya 20 Km tetapi harus ditempuh dengan 2 Jam bahkan lebih. Gila gak tuh?
Hey Mas Jawa, Hey Koko Cina, Saya dari Tano Batak
Kapan-kapan kita ngopi yok sambil bertukar pikiran tentang impian kota yang manusiawi? ngupas....
soal bagaimana membenahi persoalan kota Jakarta dengan cara yang unik dan mungkin lebih membuat horny?
soal bagaimana mengurai kemacetan kota tanpa harus membangun fisik jalan yang banyak memakan biaya
soal bagaimana menghentikan pembangunan pusat-pusat perbelanjaan
soal bagaimana memperluas lahan terbuka hijau
soal bagaimana memberi ruang teduh bagi saudara-saudara kita yang katanya dekil, berkeliaran dan diterpa hujan dan angin malam sepanjang putaran waktu.
soal bagaimana menjadi tegas jika masih ada yang ngeyel menentang pembenahan yang ideologis.
Horas Mas Jokowi, Horas Koko Ahok, nama saya Partoba
SALAM KOTAK-KOTAK
AYO, KOTAK KATIK TATA KOTA KITA TANPA OTOT TAPI OTAK
No comments:
Post a Comment