Sebelumnya tidak ada yang menduga dan menyangka kemenangan pasangan calon gubernur DKI Jokowi-Ahok pada putaran pertama Pilgub DKI 2012 cukup fenomenal. Pasangan ini meraih 42% suara, jauh meninggalkan 5 pasangan calon lain. Bahkan pasangan calon Incumbent Foke-Nara yang menduduki urutan ke 2 dalam perolehan suara terpaut 10%, dengan perolehan suara sebanyak 32%. Akhirnya putaran ke dua harus dijalankan karena belum ada yang mencapai kemenangan mutlak dengan perolehan suara minimal 51%.
Bagaimana dengan putaran ke dua?
Tidak lebih dari 24 jam lagi, diiringi turunya hujan perdana membasahai kota ini setelah musim kemarau yang sedikit agak panjang, warga DKI akan menentukan pilihan gubernurnya untuk memimpin DKI periode 2012-2017. Siapakah yang akan dipilih oleh warga DKI? Apakah yang lama akan mendapatkan kesempatan dua kali? Atau yang baru akan mendapatkan kesempatan perdana?
Bila kita flash back perjalanan kedua pasangan calon sejak putaran pertama hingga menjelang putaran ke dua besok, ke dua pasangan calon yang lolos ke putaran ke dua ini telah melakukan segala macam upaya untuk meraih kursi no 1 dan paling panas di Ibu kota ini. Mulai dari cara-cara yang konvensional hingga dengan cara-cara yang sangat kreatif dan inovatif. Mulai dari cara yang ideal hingga mungkin juga dengan cara yang curang bahkan melanggar hukum. Mulai dari cara-cara yang memang menarik simpati hingga dengan cara-cara yang sarat dengan intimidasi.
Lalu kira-kira siapa yang akan mencapai puncak piramid Kota ini? Atau mungkin pertanyaan yang lebih terurai adalah siapa yang sesungguhnya dibutuhkan oleh DKI?. Pemimpin yang bagaimana yang sanggup membenahi kota yang semrawut ini?. Gubernur seperti apa yang mampu meredam 'kekejaman' Ibukota ini yang katanya lebih kejam dari ibu tiri.
Jakarta 25 tahun terakhir
Penulis bukanlah tim sukses, apalagi bagian dari salah satu calon tertentu. Penulis hanya seorang warga DKI yang sudah 25 tahun berdomisili dan berjibaku di Ibukota yang berantakan ini.
Sejauh pengamatan penulis, sejak tahun 87 hingga sekarang kota ini
berkembang sangat pesat tanpa kendali. Pembangunan seakan-akan saling berkejar-kejaran.
Kota ini bagai hutan
beton, pori-pori tanahnya ditutup dengan pengerasan material kasar secara sporadis,
hingga tidak ada lagi permukaan tanah yang
dapat menyerap air, inilah penyebab utama banjir. Nyaris seluruh permukaan Kota ini tidak bisa lagi dirambati oleh akar tanaman. Sehingga air tidak lagi melintasi siklusnya.
Ruang terbuka
hijau atau taman kota habis dijadikan bangunan pusat perbelanjaan. Tidak
ada lagi taman-taman tempat yang nyaman untuk anak-anak bermain, tidak ada lagi udara segar
yang dapat kita hirup saat bangun pagi. Pusat-pusat perbelanjaan, apartemen, gedung
perkantoran, dan perumahan yg tidak memenuhi standart amdal, semuanya
bertumbuh seperti jamur. Belum lagi permukiman liar yang tumbuh menjadi pemukiman kumuh.
Kota Jakarta ini tidak lagi manusiawi. Tidak ada
lagi pedestrian yang nyaman untuk pejalan kaki, tidak ada kemudahan akses
fasilitas umum untuk penyandang cacat. Tidak ada lagi ruang yang nyaman untuk sekedar bercengkrama di ruang terbuka. Tidak ada lagi masyarakat yg peduli
terhadap lingkungan di sekitarnya.
Kesemrawutan atau kesalahan pengelolaan membuat kota ini menjadi tidak teratur. Kemacetan tak terurai akibat pesatnya perkembangan kepemilikan kendaraan, jauh lebih cepat akselerasinya dibandingkan perkembangan fisik ruas jalan. Hingga volume kendaraan tidak dapat lagi ditanggung oleh volume jalan yang memang sangat terbatas.
Nampaknya semua gubernur
yang pernah memimpin Kota ini hanya berorientasi kepada pengembangan
secara fisik semata. Tidak ada pemimpin yang menata kota ini secara
software, hingga membuat sistem yang sesungguhnya sebagai regulasi pengendalian pembangunan kota ini. Yang dikembangkan hanya fisiknya saja yang semakin berlapis-lapis bahkan menjulang tinggi
menuju kaki langit.
Perilaku masyarakatnya pun berubah semakin oportunis, hubungan tatanan sosialnya berangsur surut atau mengalami proses degradasi. Dekadensi moralpun terasa seiring dengan semakin tingginya tingkat stressing kota ini. Polusi udara yang menebal, panas yang menyengat, air bersih yang sulit didapat, pengangguran yang semakin tinggi, urabanisasi yang juga tidak terkendali, hingga membuat kota gila ini semakin men'gila'politan (pelsetan megapolitan).
Mr. J or Mr. F?
Lalu siapakah yang lebih pantas mengelola Kota ini? Apakah masih kita serahkan kepada yang pengalaman mengelola kota Jakarta ini namun misorientasi? Atau kepada yang sesunggunya juga sudah pengalaman di kota lain dan berhasil mengelola kota tersebut menjadi kota idaman para turis lokal dan mancanegara?
Apakah persoalan kota ini dapat diatasi dengan emosional dan temperamen? Atau sesungguhnya kota keras ini harus dihadapi dengan kelembutan? Ya tentunya dengan kebijakan yang tegas. Sebab kota ini nampaknya harus dipimpin oleh seorang yang cerdas dan dapat menata kota ini dengan konsep yang manusiawi dan dengan cara yang humanis.
Jika kita lihat dari parameter perilaku saja, nampaknya kedua pasangan calon ini sangat bertolak belakang. Yang satu ramah dan santun yang satu malah suka marah-marah dan tendensius. Heheheh
Jika kita lihat dari prestasi memimpin? mmmm...Memang Solo adalah kota yang tidak besar dan cenderung homogen, penduduknya pun tidak lebih dari 1 juta. Mungkin tidak sulit bagi seorang Jokowi untuk membuat kota Solo menjadi kota yang arif dan lohjinawi. Bagaimana dengan Jakarta yang heterogen dan berpenduduk 9 Jt jiwa dengan segalam macam persoalan?
Lalu bagaimana dengan prestasi Foke selama memimpin Jakarta? Gubernur yang sudah memimpin DKI selama satu periode dan
sebelumnya menjadi wakil Sutioso ternyata tidak berhasil membenahi dan menata
kota ini menjadi baik. Padahal menurut pengakuan beliau katanya ahli di bidang ini (baca:penataan tata kota). Lagi-lagi karena berorientasi pada pembangunan fisik.
Karena setiap proyek pembangunan fisik, seorang gubernur akan mendapatkan 'fee' atas
peresetujuanya memberikan ijin pembangunan fisik di kota ini. Wow, apakah karena uang milayaran yang di depan mata mengucur begitu saja hingga Foke sulit merelakan lepasnya Jabatan DKI-1 tersebut? Hingga harus ngotot ingin mengalahkan Jokowi di putaran ke dua besok?
Jurus pamungkas apa yang akan dilakukan oleh Foke untuk mengungguli perolehan suara Jokowi yang unggul 10% dengan perolehan suara yang dia capai? Sanggupkah Foke melawan Jokowi yang diback-up oleh relawan-relawan yang loyal mencitrakan Jokowi. Maaf mungkin bukan mencitrakan tetapi melanjutkan profile yang sesungguhnya sudah tercitrakan baik.
Percayakah anda kalau Jokowi tidak pernah korupsi? bahkan tidak
menerima gajinya sebagai upah lelahnya memimpin kota Solo?. Jika itu benar, mungkin baru Jokowi satu-satunya tokoh pemimpin di negeri ini yang sama sekali tidak pernah korup. Penulis
sangat yakin akan hal ini, hingga membuat penulis penasaran ingin
jalan-jalan ke kota Solo sekedar menghilangkan kepenatan selama bekerja
di Kota Jakarta yang memang kejam ini.
Belum pernah penulis mendapatkan broadcast bbm yang mencitrakan Foke itu baik. Sebaliknya segudang postingan, twit, status FB, hingga tulisan yang termuat di dunia maya kebanyakan mencitrakan Jokowi adalah orang baik. Hebatnya lagi rating 'JOKOWI' di mbah google mencapai19.700.000. Sedangkan Foke hanya mencapai 12.500.000. Ini bukti bahwa ternyata Jokowi tidak saja menjadi harapan warga Jakarta. tetapi sudah menjadi harapan masyarakat bangsa ini. Bahkan warga Solo tidak boleh lagi possesive dengan Jokowi. Karena Jokowi sudah menjadi 'milik' bangsa ini.
Singkatnya, masihkah kita akan memilih orang sudah GAGAL?
Tidakkah kita penasaran akan hasil sukses yang diraih oleh Jokowi di kota SOLO?
#Salam Menuju DKI 1, Esok!
Wednesday, 19 September 2012
Saturday, 1 September 2012
BULE 'ndeso' YANG NASIONALIS
Singkat Tentang Coach Timo
Di lingkungan Sepak Bola Nasional siapa yang tidak mengenal Timo Scheunemann? (susah amat yah mengeja nama belakang orang ini?). Pria turunan darah asli Jerman ini, dilahirkan di Kediri, jawa Timur 29 November 1973. Coach Timo (CT), begitu beliau biasa dipanggil.
Timo tinggal di Dau, Kab. Malang bersama istrinya bernama Devi Scheunemann ia dikaruniai dua orang anak, Shania Cinta Scheunemann dan Brandon Marsel Sceunemann. Coah Timo juga mengajar di Wesley International School, yg berlokasi di Kota Malang. Coach Timo sangat gape berbahasa Indonesia dan tentunya bahasa Jawa, karena pernah tinggal di Kediri dan Malang waktu masa kecilnya.
Jadi Pemain Sepak Bola
Coach Timo memulai karier sepak bolanya sebagai pemain profesional di Master Mustangs College Klub,divisi I di amrik tahun '93. Tahun '97 ia masuk squad Persiba Balikpapan dalam mengarugi Liga Indonesia yang saat itu bernama LIGA KANSAS. Tahun '98 ia hijrah ke Singapur dan bergabung dengan klub Tampines Rovers. Tidak lama di Singapur, ia mengikuti tes di Eintracht Frankfurt dan Suttgarter Kickers serta FC Gillingham di Ingrris.
Jadi Pelatih Sepak Bola
Ia memulai karier kepelatihan di Los Angeles Soccer Club, Tim semi pro di Amrik, sebagai Asisten Satu sekaligus sebagai pemain. Lalu ia melatih di Wesley International Club dan Malang Football Club dengan menuai banyak prestasi.Pada tahun 2007 ia menjadi Penasehat Teknik tim Persikabo Batu.
Pada tahun 2008 ia dipercaya oleh PSSI menggarap timnas sepak bola putri untuk Sea Games 2008, Hanoi. Tahun 2010 ia dipercayai menukangi Persema Malang berlaga di Liga Super Indonesia pada musim 2010-2011. Di Persema ia merekrut pemain blasteran Indonesia-Belanda, Irfan Bachdim yang akhirnya dinaturalisasi menjadi punggawa Garuda.
Timo pernah menjabat sebagai Executive Officer Badan Timnas Indonesia pada bulan Mei-Juli 2010, selepas itu ia ditugasi sebagai Ketua scouting tim lawan untuk Badan Timnas Indonesia. Sekarang Timo menjabat sebagai Direktur Pembinaan Usia Muda PSSI. Selain itu Timo sangat berjasa atas perkembangan sepak bola di Malang Raya dengan berdirinya Liga untuk usia remaja, dan merupakan bibit dari berdirinya organisasi sepak bola di Malang Raya (FORSMARRA).
Ia juga menulis buku tentang sepak bola, seperti Dasar-Dasar Sepak bola Modern, Futsal for Winner, dan 14 Ciri Sepak bola Modern. Serta memproduseri teknik-teknik sepak bola dan futsal, melalui audio-visual dalam bentuk kepingan CD.
Si Bule 'ndeso' membangun impian Negeri Garuda
Entah apa motivasi Coach Timo berkarir di Indonesia dimana sepak bolanya selalu saja mengalami kekisruhan dan tak pernah fokus membangun sepak bola yang visioner. Entah apa juga di pikiran seorang CT tidak mau meneruskan karirnya di benua biru yang jelas-jelas sepak bolanya mendominasi jagad sepak bola bumi. Sementara sepak bola negeri ini minim prestasi.
Apa yang dilihat CT dari Republik ini? Dimana sepak bolanya masih jauh dari harapan berprestasi. Sudah hampir seperempat milyar jumlah penduduk negeri ini, namun belum pernah lahir 11 pemain sepak bola yang tangguh, setidaknya untuk level benua Asia. Apa yang salah? Sementara publik negeri ini lebih banyak yang pesimis dengan masa depan sepak bola negeri ini, tidak bagi seorang CT.
CT optimis dengan masa depan sepak bola negeri ini jika dibina dengan metodologi berjenjang dan dilatih dengan konsep atau materi yang terpola berdasarkan kurikulum yang pas untuk atmosfer sepak bola negeri ini. Ia sangat yakin sepak bola negeri ini suatu saat akan bisa berbicara di tingkat internasional. Bukannya itu hanya akan menjadi bunga tidur ya coach Timo?
Ketika anak bangsa negeri ini lebih suka mencaci maki timnasnya atau pengurus sepak bolanya karena tak kunjung memberikan prestasi untuk negeri ini, CT bekerja keras tanpa pamrih memberikan waktu, tenaga dan pikiranya untuk membangun sepak bola negeri ini mulai dari tingkat usia belia. Dia memberikan totalitas yang tinggi mendidik anak-anak negeri ini untuk menjadi Garuda yang tangguh nantinya.
Apa yang sudah dikontribusikan oleh CT adalah bentuk dari sebuah kepedulian terhadap bangsa yang sepak bolanya tak kunjung membaik. Sementara para pengelola sepak bola negeri ini yang asli berdarah indonesia lebih sibuk menjadikan sepak bola tersebut sebagai komoditi politik semata atau sebagai alat pencitraan personal atau kelompok, CT lebih memilih menjadi pupuk di level gressroot. Sementara tidak sedikit juga yang mengkritisi kinerja CT yang dinilai terlalu memaksakan konsep sepak bola ala eropah atau jerman untuk diterapkan di Indonesia.
Melalui blog saya ini saya ingin menyampaikan ke publik bahwa apa yang dilakukan CT adalah sebuah pukulan keras buat kita sebagai anak bangsa yang mengaku bangga, mengaku nasionalis, dan mengaku cinta dan peduli terhadap sepak bola negeri ini. ini bukti bahwa CT lebih Nasionalis daripada kita yang berdarah asli Indonesia.
Di usia CT yang relatif masih sangat muda, beliau telah memberikan seluruh jiwa dan raganya untuk membangun sepak bola negeri ini. Secara tidak langsung CT telah membangun atau mempertebal nasionalisme negeri ini. Sebab salah satu yang bisa membangkitkan nasionalisme anak bangsa ini adalah Sepak bola, walau masih banyak rakyat di negeri ini yang berpredikat sebagai pemburu kemengan alias glory hunter.
Kita berbondong-bondong datang ke stadion membela timnas dan bangga menyanyikan lagu Indonesia Raya hanya ketika timnas kita sedang di 'atas angin'. Sementara ketika tim garuda kita sedang terpuruk, jutaan caci maki bahkan lemparan botol atau bakar membakar menjadi bentuk ekspresi berlebihan dan terkesan over act sebagai bentuk kekecewaan atas kekalahan timnas.
Sementara di tengah-tengah keputusasaan bangsa ini akan prestasi timnas seniornya, CT dengan semangat yang tinggi tetap melakukan pembinaan sepak bola Indonesia ini di level gressroot. Dan membawa bibit muda negeri ini untuk mengikuti sepak bola usia dini di kancah internasional. Menurut beliau, banyak yang salah dengan pengelolaan sepak bola usia muda di negeri ini. Salah satunya adalah tidak adanya standarisasi baku sebagai pedoman untuk melatih gressroot.
Dan yang paling mengagumkan adalah, Coach Timo kembali merilis sebuah buku berjudul Kurikulum dan Pedoman Dasar Sepak Bola Indonesia untuk dibagikan secara gratis ke seluruh Sekolah Sepak Bola (SSB) yang ada di permukaan negeri merah putih ini. Dengan dukungan responsif yang diberikan oleh Forum Diskusi Suporter Indonesia (FDSI), CT merelakan bukunya tersebut disebarluaskan tanpa royalty. Para member FDSI pun bahu membahu mengumpulkan dana dari membernya yang aktif di jejaring sosial FB dan twitter dengan berbagai cara. Mulai dari lelang motor, jersey tim, donasi langsung, dll.
Salam Sepak Bola Nasional
#Pecinta Sepak Bola Nasional
Follow me @parto_bangun
Subscribe to:
Posts (Atom)
