Kompetisi (liga versi LPIS) semakin tak jelas. Sebagai operator Liga Divisi Utama, versi Liga Prima Indonesia Sportindo (LPIS), LPIS kembali semakin tidak punya KONSISTENSI atau tidak punya KETEGASAN atau tidak punya KEWIBAWAN atau lebih tepatnya tidak punya KEMAMPUAN.
Setelah beberapa klub menyatakan mundur, lagi-lagi jadwal pertandingan begitu mudah berubah karena permintaan peserta (Klub). Jadwalpun dirubah, namun pertandinganpun terancam tak bisa dilaksanakan. Anehnya kok bisa yah tim tuan rumah kalah WO?
Tepat tanggal 31 mei 2013, melalui surat Nomor :025/SPO/DIRUT/V/2013, PSIS mengirimkan surat ke LPIS tentang permohonan pengunduran jadwal pertandingan PSIS melawan PSMS. Jadwal pertandingan tersebut mestinya tanggal 6 Mei 2013, lalu PSIS memohon agar diundur menjadi tanggal 13 Juni 2013 dengan alasan kondisi internal PSIS yang tidak kondusif. Kemudian LPIS mem-forward surat permohonan tersebut ke PSMS untuk meminta konfirmasi. (ini juga menjadi ke-'aneh'-an, apakah liga profesional boleh sekompromis ini?)
Akhirnya sepakat dengan situasi dan kondisi yang harus dimaklumi, PSMS menerima dan menyetujui permohonan pengunduran jadwal yang diajukan PSIS tersebut setelah agak alot melakukan koordinasi dengan pihak LPIS (diwakili oleh Pak Hendriyana), PSIS (diwakili oleh Pak Budi Santoso), dan PSMS (diwakili oleh saya-Partoba).
Hari Sabtu, tanggal 8 Juni 2013, tim PSMS bertolak menuju Bandung untuk melakoni laga tandang melawan PERSIKAB di Jalak Harupat pada hari Minggu, 9 Juni 2013. Sehari setelah pertandingan melawan PERSIKAB, Senin 10 Juni 2013 pukkul 22.00, PSMS bertolak menuju Semarang. Tiba di Semarang pukkul 9.00 pagi tadi.
Di tengah perjalanan Tim PSMS menuju Semarang, tepatnya pukkul 00.22 saya mendapat sms dari Pak Budi Santoso (PSIS) dengan text: 'Mohon maaf, kami PSIS tdk bisa menyelenggarakan pertandingan, krn mlsh internal...terimakasih".
Saya terkejut mendengar berita itu. Saya tidak berfikir soal keuntungan menang WO. Kami (PSMS) merasa rugi secara materi dan moril. Akan lebih sportif menerima kekalahan di pertandingan tandang daripada menang WO di laga tandang (aneh bukan?, tidak ada yang patut dibanggakan). PSIS yang memohon pengunduran jadwal, PSIS pula yang ingkar tidak bisa melakoni laga home.
Siapakah yang salah? LPIS kah? PSSI kah? PSIS kah?. Kemana PSMS harus menuntut persoalan ini?. Tanpa bermaksud menekan Tim Management PSIS, yang notabene tidak mampu membayar tunggakan gaji pemainnya. Kondisi ini harus kita pertanyakan ke LPIS selaku operator Liga.
Hallo, LPIS!!! Apa kabarmu? Mana konsep Liga Profesional yang kalian kumandangkan? Dengan kemengan/kekalahan WO yang kerap terjadi di Devisi Utama adalah indikasi bahwa Kompetisi ini berjalan sangat teramat tidak profesional bahkan bisa dikatakan BURUK!!!.
#PP
Penikmat Sepak Bola Nasional
Tuesday, 11 June 2013
Sunday, 9 June 2013
MEDAN adalah kota metropolitan dengan kepadatan OKP terbesar di Indonesia
Anda pernah ke kota Medan?
Kota no 3 terbesar di Indonesia ini, katanya sih sudah termasuk kota metropolitan (katanya...loh)
Apanya yah yang menjadi parameter sehingga layak disebut kota metropolitan?
Apa karena...
Padatnya penduduk kah?
Luas wilayah kotanya kah?
Keramaiannya kah?
Transportasinya kah?
atau...karena
Sewrawutnya kah?
Macetnya kah?
Sampahnya kah?
mmm....jangan-jangan karena banyaknya sorotan lampu papan iklan yang terang benderang? sehingga kota ini disebut kota metropolitan. Saya sendiri gak ngerti apa kriteria kota metropolitan. Apa yah arti metropolitan?
"n'tahlah" (pinjam istilah dengan dialek medan)
Kota ini memang sudah semakin padat; padat kendaraannya, padat angkotnya, padat becaknya, termasuk padat sampahnya, padat orang stresnya bahkan makin padat orang gilanya.
Tapi menurut saya kota ini memang memiliki kepadatan yang agak unik dibandingkan kota-kota lain. Kota ini memiliki kepadatan ORMAS Kepemudaan yang sangat besar, yang biasa disebut padat OKP.
Tau OKP kan? itu loh Organisasi Kelompok Partisan atau Organisasi Kemasyarakatan Pemuda.
Unik kan? bagi saya hal ini memang agak aneh. Mengapa saya sebut demikian?
Bayangkan saja hampir di setiap penjuru kota selalu ada saja pos-pos OKP dengan besaran dan ukuran bangunan bervariasi. Ada yang berupa bangunan permanen, ada yang dengan sengaja menyewa ruko, ada juga bangunan darurat dari bahan kayu atau bambu yang berdiri di pinggiran jalan, ada juga pos-pos kecil yang sengaja dibuat untuk menjadi kantor sekretariat.
Biasanya ciri khas posko ini selalu diberi warna lorang-loreng sesuai basic warna organisasinya. Ada yang loreng orange-hitam, birumuda-hitam, biru tua-hitam, merah-hitam, hijau-hitam. Pokoknya bermacam-macamlah.
Uniknya lagi di beberapa sudut kota terpampang iklan layanan masyarakat OKP di poster-poster, spanduk-spanduk, baliho, bahkan di papan iklan bill board yang super besar lengkap dengan sorotan lampu yang terang. Pastinya bayar iklanya mahal tuh.
Iklan layanan masyarakat itu berisi macam-macam slogan atau ajakan. Atau sosialisasi program kampanye OKP mereka. Mungkin program-programnya atau pernyataan sikapnya, gitu kali yah? atau sekedar trend menunjukkan eksistensi kali yah?. Ada yang berslogan 'Anti korupsi', 'Tolak Korupsi', 'Anti kekerasan', "Jauhi Narkoba' atau 'Say No To Drugs'. Pokoknya macam-macamlah yang mereka sosialisasikan.
Namun yang menurut saya semakin aneh adalah...mengapa di setiap tampilan iklannya selalu menyertakan photo figur atau sosok (mungkin tokoh dari pengurus OKP tersebut) dengan tampang atau perawakan yang seram. Menggunakan pakaian loreng-loreng lalu pakai baret, dan berpose dengan tampang yang sangar atau mimik yang menakutkan. Jarang ada yang sambil tersenyum. Menurut saya malah cenderung seperti tampang preman. Kenapa yah? Mesti kah? heheheh....
OKP singkatnya bukan Organisasi Kepemudaan Preman kan? heheheh
Kota no 3 terbesar di Indonesia ini, katanya sih sudah termasuk kota metropolitan (katanya...loh)
Apanya yah yang menjadi parameter sehingga layak disebut kota metropolitan?
Apa karena...
Padatnya penduduk kah?
Luas wilayah kotanya kah?
Keramaiannya kah?
Transportasinya kah?
atau...karena
Sewrawutnya kah?
Macetnya kah?
Sampahnya kah?
mmm....jangan-jangan karena banyaknya sorotan lampu papan iklan yang terang benderang? sehingga kota ini disebut kota metropolitan. Saya sendiri gak ngerti apa kriteria kota metropolitan. Apa yah arti metropolitan?
"n'tahlah" (pinjam istilah dengan dialek medan)
Kota ini memang sudah semakin padat; padat kendaraannya, padat angkotnya, padat becaknya, termasuk padat sampahnya, padat orang stresnya bahkan makin padat orang gilanya.
Tapi menurut saya kota ini memang memiliki kepadatan yang agak unik dibandingkan kota-kota lain. Kota ini memiliki kepadatan ORMAS Kepemudaan yang sangat besar, yang biasa disebut padat OKP.
Tau OKP kan? itu loh Organisasi Kelompok Partisan atau Organisasi Kemasyarakatan Pemuda.
Unik kan? bagi saya hal ini memang agak aneh. Mengapa saya sebut demikian?
Bayangkan saja hampir di setiap penjuru kota selalu ada saja pos-pos OKP dengan besaran dan ukuran bangunan bervariasi. Ada yang berupa bangunan permanen, ada yang dengan sengaja menyewa ruko, ada juga bangunan darurat dari bahan kayu atau bambu yang berdiri di pinggiran jalan, ada juga pos-pos kecil yang sengaja dibuat untuk menjadi kantor sekretariat.
Biasanya ciri khas posko ini selalu diberi warna lorang-loreng sesuai basic warna organisasinya. Ada yang loreng orange-hitam, birumuda-hitam, biru tua-hitam, merah-hitam, hijau-hitam. Pokoknya bermacam-macamlah.
Uniknya lagi di beberapa sudut kota terpampang iklan layanan masyarakat OKP di poster-poster, spanduk-spanduk, baliho, bahkan di papan iklan bill board yang super besar lengkap dengan sorotan lampu yang terang. Pastinya bayar iklanya mahal tuh.
Iklan layanan masyarakat itu berisi macam-macam slogan atau ajakan. Atau sosialisasi program kampanye OKP mereka. Mungkin program-programnya atau pernyataan sikapnya, gitu kali yah? atau sekedar trend menunjukkan eksistensi kali yah?. Ada yang berslogan 'Anti korupsi', 'Tolak Korupsi', 'Anti kekerasan', "Jauhi Narkoba' atau 'Say No To Drugs'. Pokoknya macam-macamlah yang mereka sosialisasikan.
Namun yang menurut saya semakin aneh adalah...mengapa di setiap tampilan iklannya selalu menyertakan photo figur atau sosok (mungkin tokoh dari pengurus OKP tersebut) dengan tampang atau perawakan yang seram. Menggunakan pakaian loreng-loreng lalu pakai baret, dan berpose dengan tampang yang sangar atau mimik yang menakutkan. Jarang ada yang sambil tersenyum. Menurut saya malah cenderung seperti tampang preman. Kenapa yah? Mesti kah? heheheh....
OKP singkatnya bukan Organisasi Kepemudaan Preman kan? heheheh
Subscribe to:
Posts (Atom)