Refleksi 67 Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia
Menoejoe Kemerdekaan
Doeloe
sebeloem kemerdekaan RI tahoen '45, poetra-poetri bangsa ini berjoeang
melawan pendjadjah oentoek mereboet tanah air ini dari tangan Belanda dan
segera mewoejoedkan kemerdekaan jang oetoeh bagi seloeroeh rakjat.
Perjoeangan
dilakoekan dengan patriotisme jang tinggi hingga titik darah penghabisan. Perlawanan merata ke seloeroeh
pendjoeroe tanah air. Dari desa hingga ke kota, dari kalangan petani
hingga kaoem cendekiawan terpelajar, dari berbagai soekoe dan agama.
Seloeroeh rakjat bersatoe mengoesir pendjajah oentoek mengembalikan
kedawlatan bangsa ini.
Akhirnya Repoeblik ini berdiri
tegak pada tanggal 17 Agoetoes 1945 jang diproklamirkan oleh Boeng Karno
atas desakan poetra dan poetri bangsa ini. Soekarno pun menjadi pemimpin Revolusi jang membawa bangsa ini menoejoe pintoe
kemerdekaan.
Paska "Kemerdekaan"
Soekarno sebagai Pemimpin
Pertama Republik ini menahkodai bangsa ini dengan semangat yang sangat
revolusioner. Seluruh anak bangsa negeri inipun serta merta bahu membahu membenahi
tatanan Republik ini walau masih harus berjuang melepaskan intervensi
yang masih saja dilakukan oleh Belanda hingga beberapa tahun setelah
kemerdekaan Republik ini dikumandangkan.
Tiba-tiba saja
Republik ini kembali bertumapah darah pada tahun 1948. Namun bukan
dalam rangka melawan penjajah, tetapi lebih tepat bila dibilang perang
saudara. Perseteruan terjadi karena rivalitas kelompok kiri yang
dipimpin Muso yang 'menuding' Pemerintahan Republik yang dipimpin
Soekarno telah berkompromi dengan Amerika atau dipengaruhi oleh Amerika.
Pada era ini aksi saling menculik dan membunuh mulai
terjadi, dan
masing-masing pihak menyatakan, bahwa pihak lainlah yang memulai. Banyak
reska perwira TNI, perwira polisi, pemimpin agama, pondok pesantren di
Madiun dan sekitarnya yang diculik dan dibunuh. Namun tidak lama Muso
dkk 'tumbang' oleh TNI di Madiun, hingga disebut Peristiwa
Madiun. Baru setelah pemerintahan Orde Baru yang dipimpin oleh Soeharto
peristiwa tersebut diganti namanya menjadi Pemberontakan PKI di Madiun.
Belum surut euforia kemerdekaan yang
dirasakan bangsa ini selama dua dasawarsa, lagi-lagi Republik ini
kembali
bersimbah darah. Sejarah hitam kembali terjadi pada tahun 1965. Beberapa
orang Jendral Petinggi TNI tewas dibunuh dengan keji, oleh siapa yah?.
Sampai saat ini tidak jelas siapa yang menjadi otak atau sutradara di
balik peristiwa tersebut. PKI? BOHONG!, penulis tidak percaya sama
sekali.
Bannyak yang beranggapan peristiwa ini masih 'terkait'
dengan Peristiwa Madiun 1948. Bukankah MUSO dan kelompoknya sudah
lumpuh?. Jangan-jangan ada konspirasi tingat tingkat internasional yang
tidak
ingin paham komunis berkembang di Indoneia. Sebab saat itu PKI menjadi
Partai terbesar dengan pendukung kelas proletariat yang menjadi musuh
besar Kapitalisme Barat. PKI berkembang pesat di Indonesia. Terbukti
pada Pemilu
pertama tahun 1955, PKI mendulang suara 16% dari keseluruhan suara,
menempati posisi ke empat. Partai
ini memperoleh 39 kursi (dari 257 kursi yang diperebutkan) dan 80 dari
514 kursi di Konstituante.
Menjalani 'kemerdekaan'?
Sejarah
telah diabu-abukan. Peristiwa tersebut masih menyisakan banyak
pertanyaan yang belum terjawab dengan jelas sampai sudah 67 tahun
Republik ini katanya 'merdeka'. Betul kah?. Fakta yang nyata hanyalah
bahwa setelah peristiwa G30S/? (baca: Gerakan Tiga Puluh September
Tandan Tanya) tersebut, Soekarno 'dilengserkan' oleh kekuatan kelompok
baru yang bermerek Orde Baru. Dengan menyebut Era Soekarno sebagai Orde Lama.
Betulkah Komunis menjadi brutal dan tidak manusiawi hingga melakukan aksi genosaid? Betulkah kaum proletar yang kebanyakan kelompok tani mampu melakukan tindakan-tindak sadism dengan melakukan serangkaian pembunuhan terencana dan terstruktur serta tersekenario dengan apik.
Di sisi lain ada kecurigaan publik kalangan terpelajar bahwa ada
intervensi USA melalui CIA ke Indonesia untuk menumpas aliansi rival
besarnya di muka bumi ini yang bernama bangsa Uni Soviet?. Dimana ditenggarai
bahwa Muso, Aidit dan seluruh kawan-kawan kiri berafiliasi ke komunis
titisan Lenin tersebut.
Dengan 'menumbangkan'
kedinastian Soekarno setelah dua dasawarsa memimpin Republik ini,
akhirnya Soeharto si 'smiling jenderal' merebut atau mengambil alih atau
melakukan junta atau apalah istilahnya, kekuasaan kemudian dikendalikan
oleh Soeharto yang memanfaatkan Supersemar sebagai alasan untuk
mengendalikan kondisi instabilitas yang terjadi di Republik ini.
Sandiwara babak Orde Baru dimulai
PKI
tumpas oleh kekuatan militer yang nampaknya didukung oleh Amerika dan
disertai hasutan
kepada pengikut partai yang berbasis agama untuk menumpas faham komunis
yang dinilai telah melakukan beberapa kali pemberontakan terhadap
pemerintahan yang sah? betulkah demikian?. Sejarah tersebut tetap saja
menghitam hingga sekarang.
Seakan semua anak bangsa ini menjadi trauma
dan 'mentabukan' walau sekedar ingin mengetahui peristiwa
sesungguhnya.Sebab pemerintahan Orde Baru mampu 'menyulap' cerita '65
menjadi cerita yang mencuci otak generasi angkatan '70an bahkan hingga
sekarang.
Soeharto mulai menahkodai Republik ini dari Sabang hingga Merauke, bahkan
hingga merampas Timor Leste dari Portugal mulai tahun 1975.
Soeharto
ternyata muncul menjadi sosok penguasa yang otoriter. Selama 32 tahun
memimpin Republik ini, tidak boleh ada yang bisa membantah perintahnya yang
bagai titah seorang raja. Kekuasaanya masif hingga ke seluruh tingkat hirarki
birokrasi, bahkan parlemen sekalipun bisa dia 'pimpin' dengan tanpa ada
perlawanan.
Berbagai peritiwa berdarah terjadi silih
berganti di Republik ini di berbagai daerah. Mulai Peristiwa perebutan
lahan atau tanah adat, peristiwa pemberangusan keyakinan-keyakinan
lokal, pemberangusan kelompok-kelompok atau ormas-ormas kiri,
pembredelan media-media kritis, penculikan mahasiswa dan aktivis-aktivis
prodemokrasi, hingga pembunuhan-pembunuhan misterius yang terkadang
kasusnya hanya melintas begitu saja tanpa ada kata keadilan.
Nyaris Seumur hidup
Presiden Soeharto tak tergantikan, semakin kokoh memang manakala Amerika selalu memback-up
dengan jaminan investasi atau sokongan dana untuk pembangunan ekonomi dan pembangunan
fisik Republik ini. Seluruh kelompok yang berlawanan dengan dia tidak berani melawan secara frontal, kalau masih ngeyel tak ada tawar menawar ya...MATI.
Bahkan
Partai Demokrasi Indonesia atau PDI yang dipimpin oleh putri Bung
Karno, yaitu
Megawati ditenggarai juga 'diobok-obok' oleh Soeharto. Dia beranggapan
bahwa PDI telah menjadi tempat "berkembang biak" kelompok kiri yang
semakin
kuat dimana belakangan muncul kembali gerakan-gerakan yang cenderung
menjadikan
tokoh Soekarno sebagai simbol perlawanan kepada Soeharto dan berkembang
di tubuh PDI. Kader Partai yang Pro Mega akhirnya mengganti nama Partai
tersebut menjadi PDI Perjuangan setelah konflik
27 Juli 1996 di internal partai PDI.
Peristiwa
27 Juli 1996 adalah peristiwa pengambilalihan secara paksa kantor DPP
PDI di Jl Diponegoro 58 Jakarta Pusat yang saat itu dikuasai pendukung
Megawati Soekarnoputri. Penyerbuan dilakukan oleh massa pendukung
Soerjadi (Ketua Umum versi Kongres Medan) serta dibantu oleh aparat dari
kepolisian dan TNI. Peristiwa tersebut juga penuh muatan rekayasa
politik.
Penindasan
serta kesewenang-wenangan terus menjadi cerita kelam dan sandiwara yang
selalu menakutkan untuk dibahas. Kisah buruh Marsinah yang tewas dibunuh dengan cara mengenaskan, kisah
'pencabutan nyawa' para aktivis kemanusiaan, pembunuhan kelompok
separatis yang membangkang untuk menuntut kemerdekaaan terus berlanjut,
namun tidak sekalipun menyurutkan nyali para kelompok kiri pro
demokrasi untuk tetap melakukan perlawanan dengan berbagai macam cara.
Agitasi, propaganda, aksi-aksi demintrasi, hingga aksi protes turun ke
jalan serta aksi kritik melalui media tulis, seni musik atau teaterikal
kelompok seniman jalanan dan panggung. Kampus-kampus pun menjadi ruang
yang tetap tidak 'aman' untuk melakukan konsolidasi kelompok diskusi.
Hingga
pada akhirnya pada bulan Mei tahun 1998 dibarengi kondisi semakin terpuruknya
ekonomi bangsa dan drastinya inflasi yang 'menukik' hingga ke level dimana
rakyat di Republik ini semakin kelaparan. Gejolak gerakan rakyat dan
mahasiswa tak terelakan lagi. Kemarahan rakyat mengkristal akibat
kejenuhan yang telah 32 tahun mengekang bangsa ini untuk diam dan tak
boleh melawan.
REFORMASI 1998, Soeharto tidak tumbang
Sebuah
gerakan people power nyaris menjadi embrio revolusi memuncak setelah
kerusuhan yang hampir terjadi di seluruh kota besar di Indonesia.
Penjarahan besar-besaran oleh rakyat yang telah lapar, perampokan
toko-toko dan pusat perbelanjaan, pemerkosaan dan pembunuhan etnis
tionghoa terjadi akibat diskriminasi yang mengakibatkan kecemburuan
sosial yang sangat timpang.
Tuntutan lengsernya
Soeharto dengan jargon-jargon Gantung Soeharto (TUNGTO) dan REVOLUSI! menggema lantang dari
'toa-toa' korlap aksi-aksi kelompok dan elemen gerakan rakyat
dan mahasiswa tak henti-hentinya turun ke jalan meninggalkan rumah dan
kampus. Mahasiswa dan rakyat berhasil menduduki Gedung DPR/MPR beberapa
hari sebelum Soeharto .
Soeharto akhirnya mengundurkan
diri pada tanggal 21 Mei 1998 atas desakan rakyat, mahasiswa dan
pelajar, kemudian menyerahkan 'singgasana' kekuasaanya ke Habibie yang
saat itu menjadi wakilnya. Euforia publik hingga harus menteskan banjiran
air mata. Sorak sorai rakyat Indonesia bergemuruh ke seluruh penjuru
tanah air. Seakan kemerdekaan sesungguhnya telah diraih karena ternyata
selama 32 tahun negeri ini hanya merasakan kemerdekaan semu setelah
lepas dari penjajahan Belanda.
Lalu kemudian Habibie
menahkodai kapal yang nyaris 'karam' akibat goncangan badai dan
gelombang keterpurukan ekonomi. Hingga Sidang Istimewa DPR berlangsung,
ternyata kroni-kroni Soeharto masih 'tunduk' untuk menjalankan 'titah'
sang Smiling Jendral. Berbagai manuver politik terus bergejolak
dalam Sidang Istimewa. Ahirnya SI memutuskan untuk melakukan Pemilu
Ulang yang akhirnya memilih Gusdur sebagai Presiden ke 4 Republik ini
menggantikan Habibie
Gusdurpun tak bertahan lama, 2
tahun meminpin negeri ini Abdulrahman Wahid juga dilengserkan
oleh lawan politiknya karena merasa kebijakan-kebijakan Gusdur yang tidak
populis bahkan merugikan bagi partai-partai Islam. Dan yang terkesan
lebih kontroversial ketika Gusdur berani membekukan Partai Golkar, partai
besar yang 'diasuhan' Sohoerto selama 30 tahun lebih . Gusdurpun
lengser walau dengan spekulasi mendekrit DPR. Konspirasi besar terjadi
lintas partai.
Megawati selaku wakil lantas
menggantikan Gusdur menjadi Presiden ke 5 RI hingga 2004. Namun pada
Pemilu 2004, sistem demokrasi di Republik ini melakukan kemajuan satu
langkah dengan memilih Presiden oleh masyarakat secara langsung. Tidak
lagi di tingat parlement yang selama ini dinilai hanyalah merupakan "sandiwara
rumah rakyat".
Pemilihan Presiden secara langsungpun
dilakukan, tak dinaya Soesilo Bambang Yudoyono atau SBY yang pernah
dipecat oleh Gusdur dari jabatannya sebagai Menteri Pertambangan dan
Energy bersama
Jusuf Kala memenangkan pertarungan melawan saingan kuatnya Megawati.
Namun ada cerita yang ganjil, kematian Munir membuahkan tanda tanya
bersar terkait kenaikan SBY menjadi Presiden RI sebagai calon dari
militer. Seorang aktivis kemanusiaan tewas mengenaskan diracun saat
terbang menuju Belanda dalam rangka menuntaskan study di Belanda. Ada
apa dengan kematian Munir? Apa hubunganya dengan issue KONTRAS yang
selalu mengangkat kasus-kasus kekerasan yang dilakukan oleh militer atas
kepentingan penguasa.
Begitu juga Pemilihan
presiden 2009, Lagi-lagi SBY unggul telak atas saingan-sainganmya. SBY
dengan 'obralan kharismanya' mampu memenangkan Pemilu dengan memboyong
Boediono menjadi calon Wakil Presiden. Mengapa Budiono yah? Apakah ada
kepentingan dibalik ini semua dimana Boediono tidak cukup populer di
panggung politik namun menjadi pilihan SBY unt menjadi wakilnya. Seorang mantan Gubernur Bank Indonesia ini mampu
mendongkrak eletabilitas pasangan SBY. Apanya yang lebih dari seorang Budiono? uangnya kah? memang Budiono kaya yah? Konon
kabarnya kemenangan SBY dimodali oleh dana besar yang diplintir-plintir
dari sebuah bank bermasalah. Uhhhffff.....Century kah?
Republik Korup
SBY
hanya "bermanis mulut' untuk meberantas korupsi. Segudang kasus korupsi yang
dilakukan oleh kader-kader partai-partai besar seperti Golkar dan Partai
'asuhanya' Demokrat tidak pernah tuntas. Segudang aset bangsa ini
digerogoti oleh barisan-barisan elit 'didikan' dinasti Orde Baru. SBY
adalah 'murid' Soeharto. Artinya secara tidak langsung elit-elit politik sekarang adalah 'ajaran' Soeharto.
SBY 'memelihara' banyak
kader-kader korup. Semangat Reformasi semakin pudar, sistem tidak
berubah, perilaku aparatur negara tidak ada ubahanya seperti jaman Orde
Baru yang bermental korup. Semua lapisan hirarki birokrasi korup secara
terang-terangan. Ekonomi bangsa ini semakin terpuruk. Anak bangsanya terbuai
mimpi menjadi TKI di luar negeri hingga meninggalkan sawah, ladang dan
ternaknya untuk mengadu nasib di negeri orang bahkan dianiaya dan tidak
dibela oleh Pemimpin bangsanya.
Perkembangan ekonomi
sesungguhnya semu. Rumah dan segala isinya, kendaraan roda empat dan
roda dua yang kita miliki semuanya adalah hutang negara. Bumi dan segala
isinya telah dimonopoli oleh investor-investor besar kelas
internasional. Air bersihpun harus kita beli. Kita tidak bisa lagi
mencipta, menjadi manja dengan membeli ini dan itu yang diimpor dari luar.
Mental konsumtif menjadi budaya dan pada akhirnya kita akan menjadi
budak di negeri sendiri.
Konflik sosial tetap mewarnai
pelangi negeri ini. Proses demokrastisasi memakan biaya yang
mahal dan korban nyawa yang sangat besar. Perbedaan selalu saja
mengorbankan nyawa. Kekerasan masih menjadi penyelesaian suatu
kasus. Premanisme dipelihara dan dijadikan alat untuk mewujudkan
keinginan-keinginan atau kepentingan tingkat elit.
Lalu, pernah
kah kita merasakan kemerdekaan yang sesungghunya? Setelah bangsa lain
menjajah negeri ini secara langsung, kini bangsa ini dijajah oleh
bangsanya sendiri yang juga diintervensi oleh bangsa lain. Dengan katai
lain, bangsa Indonesia ini tetap terus terjajah. Namun kini bentuknya
adalah penjajahan ekonomi. Kita tidak sadar, bahwa investasi
besar-besaran atau intervensi ekonomi pasar bebas berdampak terhadap
kedaulatan negeri ini. Bagaimana korelasinya?.
Analoginya
sederhana saja....Bangsa ini bodoh di tengah luasnya lautan yang
mengandung protein tinggi. Bangsa ini haus di tengah jutaan mata air dan
derasnya air terjun serta banyaknya kubangan air tawar. Dan bangsa ini
kelaparaan di tengah bentangan luasnya daratan subur.
Kmerdekaan yang utuh masih hanya sebatas impian
Selamat Ulang Tahun Tanah Tumpah Darahku yang ke 67.
Friday, 17 August 2012
Tuesday, 14 August 2012
SERBET ITU BERMOTIF KOTAK-KOTAK
Simple namun sangat bermanfaat
Tau serbetkan?
Itu loh...sepotong kain yang biasanya berfungsi sebagai kain lap. Bentuknya sangat sederhana, ukuranya paling kira-kira 30 x 30 cm. Benda ini biasanya dipakai untuk mengelap tangan setelah kita selesai mencuci tangan sehabis makan pakai tangan atau tanpa menggunakan sendok.
Benda ini biasanya ada di sekitar dapur atau di atas meja makan atau digantung di dekat wastafel tempat mencuci tangan.
Selain untuk mengelap tangan, serbet atau kain lap ini biasanya juga digunakan untuk mengelap meja makan yang kotor setelah habis makan. Terkadang serbet juga digunakan untuk mengelap perabotan rumah tangga. kain lap ini juga sering digunakan untuk mengelap piring dan gelas agar cepat kering setelah dicuci. Sebab kain lap ini begitu menyerap.
Kain lap ini sangat bermanfaat bagi kehidupan kita sehar-hari. Kain serbet biasanya sangat melekat dengan sosok seorang pelayan. Pelayan di rumah, pelayan di restoran, atau pelayan di kantor, Kain ini tergolong kain yang sangat sederhana, artinya secara harga tentunya tidak mahal. Kain ini sangat murah, namun fungsinya sangat besar, tidak semurah harganya. Kain ini mampu membersihkan kotoran, artinya kain ini sangat membantu kegiatan kita sehari-hari untuk menjaga kesehatan kita karena kotoran tentunya dapat menimbulkan penyakit.
Kain serbet yang sangat sedarha itu biasanya bermotif kotak-kota, warnanyapun berfariasi; ada yang merah, biru, hijau, abu-abu dan hitam....
Muncul pertanyaa dalam benak penulis....
Kenapa yah motifnya selalu kotak-kotak?
Hebatnya lagi sekalipun kain lap ini sudah berkali-kali digunakan hingga dekil bahkan nyaris menghitam akibat kotoran, namun jika dicuci kembali, warnanya mungkin memudar namun motifnya tetap saja kotak-kotak.
Ada apa yah dengan KOTAK-KOTAK?
Ada gak sih hubungan serbet dengan kemeja motif kotak-kotak yang digunakan pasangan Jokowi-Ahok sebagai 'indentitas' dirinya dalam rangka mencalonkan diri menjadi Gubernur DKI periode 2012-2017?
Jika memang ada hubunganya. Penulis menilai gagasan ini sangat luar biasa.
Atau jangan-jangan filosofinya memang berasal dari kesedarhaan dari serbet tersebut. Jika memang benar adanya, pilihan ini sangat brilliant.
Jokowi-Ahok adalah pelayan rakyat
Tim sukses Jokowi-Ahok sangat cerdas memilih motif ini menjadi 'baju seragam' pasangan yang mereka calonkan. Semangat yang mereka usung sangat persis jika dianalogikan dengan kain sederhana yang bermotif kotak-kotak tersebut; bahwa....
Jokowi-Ahok muncul menjadi sosok 'kain lap' yang sesuai dengan fungsinya diharapkan dapat membersihkan yang 'kotor-kotor' di negeri ini khususnya di Jakarta.
Jokowi dengan sosoknya yang memang sangat sederhana, namun mampu menyelesaikan persoalan-persoalan yang selama ini mengotori Republik ini.
Beliaupun sangat mengayomi rakyat yang dipimpinya. Dia mampu menyerap aspirasi rakyatnya seperti kemampuan kain katun serbet tadi menyerap air.
Kemudian beliau juga menjadi pemimpin yang sangat ideal, dimana pemimpin yang sesungguhnya adalah pemimpin yang sekaligus bisa menjadi pelayan bagi mayarakat yang dia pimpin. Jokowi memiliki kapasitas ini. Beliau mau melayani masyarakatnya sampai persoalan yang paling sederhana sekalipun.
Salam KOTAK-KOTAK
Subscribe to:
Posts (Atom)
