Laman

Saturday, 1 September 2012

BULE 'ndeso' YANG NASIONALIS


Singkat Tentang Coach Timo
Di lingkungan Sepak Bola Nasional siapa yang tidak mengenal Timo Scheunemann? (susah amat yah mengeja nama belakang orang ini?). Pria turunan darah asli Jerman ini, dilahirkan di Kediri, jawa Timur  29 November 1973. Coach Timo (CT), begitu beliau biasa dipanggil.

Timo tinggal di Dau, Kab. Malang bersama istrinya bernama Devi Scheunemann ia dikaruniai dua orang anak, Shania Cinta Scheunemann dan Brandon Marsel Sceunemann. Coah Timo juga mengajar di Wesley International School, yg berlokasi di Kota Malang. Coach Timo sangat gape berbahasa Indonesia dan tentunya bahasa Jawa, karena pernah tinggal di Kediri dan Malang waktu masa kecilnya.

Jadi Pemain Sepak Bola


Coach Timo memulai karier sepak bolanya sebagai pemain profesional di Master Mustangs College Klub,divisi I di amrik tahun '93. Tahun '97 ia masuk squad Persiba Balikpapan dalam mengarugi Liga Indonesia yang saat itu bernama LIGA KANSAS. Tahun '98 ia hijrah ke Singapur dan bergabung dengan klub Tampines Rovers. Tidak lama di Singapur, ia mengikuti tes di Eintracht Frankfurt dan Suttgarter Kickers serta FC Gillingham di Ingrris.


Jadi Pelatih Sepak Bola
Ia memulai karier kepelatihan di Los Angeles Soccer Club, Tim semi pro di Amrik, sebagai Asisten Satu sekaligus sebagai pemain. Lalu ia melatih di Wesley International Club dan Malang Football Club dengan menuai banyak prestasi.Pada tahun 2007 ia menjadi Penasehat Teknik tim Persikabo Batu.

Pada tahun 2008 ia dipercaya oleh PSSI menggarap timnas sepak bola putri untuk Sea Games 2008, Hanoi. Tahun 2010 ia dipercayai menukangi Persema Malang berlaga di Liga Super Indonesia pada musim 2010-2011. Di Persema ia merekrut pemain blasteran Indonesia-Belanda, Irfan Bachdim yang akhirnya dinaturalisasi menjadi punggawa Garuda.

Timo pernah menjabat sebagai Executive Officer Badan Timnas Indonesia pada bulan Mei-Juli 2010, selepas itu ia ditugasi sebagai Ketua scouting tim lawan untuk Badan Timnas Indonesia. Sekarang Timo menjabat sebagai Direktur Pembinaan Usia Muda PSSI. Selain itu Timo sangat berjasa atas perkembangan sepak bola di Malang Raya dengan berdirinya Liga untuk usia remaja, dan merupakan bibit dari berdirinya organisasi sepak bola di Malang Raya (FORSMARRA).

Ia juga menulis buku tentang sepak bola, seperti Dasar-Dasar Sepak bola Modern, Futsal for Winner, dan 14 Ciri Sepak bola Modern. Serta memproduseri teknik-teknik sepak bola dan futsal, melalui audio-visual dalam bentuk kepingan CD.


Si Bule 'ndeso' membangun impian Negeri Garuda
Entah apa motivasi Coach Timo berkarir di Indonesia dimana sepak bolanya selalu saja mengalami kekisruhan dan tak pernah fokus membangun sepak bola yang visioner. Entah apa juga di pikiran seorang CT tidak mau meneruskan karirnya di benua biru yang jelas-jelas sepak bolanya mendominasi jagad sepak bola bumi. Sementara sepak bola negeri ini minim prestasi.

Apa yang dilihat CT dari Republik ini? Dimana sepak bolanya masih jauh dari harapan berprestasi. Sudah hampir seperempat milyar jumlah penduduk negeri ini, namun belum pernah lahir 11 pemain sepak bola yang tangguh, setidaknya untuk level benua Asia. Apa yang salah? Sementara publik negeri ini lebih banyak yang pesimis dengan masa depan sepak bola negeri ini, tidak bagi seorang CT.

CT optimis dengan masa depan sepak bola negeri ini jika dibina dengan metodologi berjenjang dan dilatih dengan konsep atau materi yang terpola berdasarkan kurikulum yang pas untuk atmosfer sepak bola negeri ini. Ia sangat yakin sepak bola negeri ini suatu saat akan bisa berbicara di tingkat internasional. Bukannya itu hanya akan menjadi bunga tidur ya coach Timo?

Ketika anak bangsa negeri ini lebih suka mencaci maki timnasnya atau pengurus sepak bolanya karena tak kunjung memberikan prestasi  untuk negeri ini, CT bekerja keras tanpa pamrih memberikan waktu, tenaga dan pikiranya untuk membangun sepak bola negeri ini mulai dari tingkat usia belia. Dia memberikan totalitas yang tinggi mendidik anak-anak negeri ini untuk menjadi Garuda yang tangguh nantinya.

Apa yang sudah dikontribusikan oleh CT adalah bentuk dari sebuah kepedulian terhadap bangsa yang sepak bolanya tak kunjung membaik. Sementara para pengelola sepak bola negeri ini yang asli berdarah indonesia lebih sibuk menjadikan sepak bola tersebut sebagai komoditi politik semata atau sebagai alat pencitraan personal atau kelompok, CT lebih memilih menjadi pupuk di level gressroot. Sementara tidak sedikit juga yang mengkritisi kinerja CT yang dinilai terlalu memaksakan konsep sepak bola ala eropah atau jerman untuk diterapkan di Indonesia.

Melalui blog saya ini saya ingin menyampaikan ke publik bahwa apa yang dilakukan CT adalah sebuah pukulan keras buat kita sebagai anak bangsa yang mengaku bangga, mengaku nasionalis, dan mengaku cinta dan peduli terhadap sepak bola negeri ini. ini bukti bahwa CT lebih Nasionalis daripada kita yang berdarah asli Indonesia.

Di usia CT yang relatif masih sangat muda, beliau telah memberikan seluruh jiwa dan raganya untuk membangun sepak bola negeri ini. Secara tidak langsung CT telah membangun atau mempertebal nasionalisme negeri ini. Sebab salah satu yang bisa membangkitkan nasionalisme anak bangsa ini adalah Sepak bola, walau masih banyak rakyat di negeri ini yang berpredikat sebagai pemburu kemengan alias glory hunter.

Kita berbondong-bondong datang ke stadion membela timnas dan bangga menyanyikan lagu Indonesia Raya hanya ketika timnas kita sedang di 'atas angin'. Sementara ketika tim garuda kita sedang terpuruk, jutaan caci maki bahkan lemparan botol atau bakar membakar menjadi bentuk ekspresi berlebihan dan terkesan over act sebagai bentuk kekecewaan atas kekalahan timnas.

Sementara di tengah-tengah keputusasaan bangsa ini akan prestasi timnas seniornya, CT dengan semangat yang tinggi tetap melakukan pembinaan sepak bola Indonesia ini di level gressroot. Dan membawa bibit muda negeri ini untuk mengikuti sepak bola usia dini di kancah internasional. Menurut beliau, banyak yang salah dengan pengelolaan sepak bola usia muda di negeri ini.  Salah satunya adalah tidak adanya standarisasi baku sebagai pedoman untuk melatih gressroot.

Dan yang paling mengagumkan adalah, Coach Timo kembali merilis sebuah buku berjudul Kurikulum dan Pedoman Dasar Sepak Bola Indonesia untuk dibagikan secara gratis ke seluruh Sekolah Sepak Bola (SSB) yang ada di permukaan negeri merah putih ini. Dengan dukungan responsif yang diberikan oleh Forum Diskusi Suporter Indonesia (FDSI), CT merelakan bukunya tersebut disebarluaskan tanpa royalty. Para member FDSI pun bahu membahu mengumpulkan dana dari membernya yang aktif di jejaring sosial FB dan twitter dengan berbagai cara. Mulai dari lelang motor, jersey tim, donasi langsung, dll.     

Salam Sepak Bola Nasional
#Pecinta Sepak Bola Nasional
Follow me @parto_bangun

No comments:

Post a Comment