Laman

Friday, 17 August 2012

67 TAHUN MENANTIKAN KEMERDEKAAN SESUNGGUHNYA

Refleksi 67 Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia

Menoejoe Kemerdekaan
Doeloe sebeloem kemerdekaan RI tahoen '45, poetra-poetri bangsa ini berjoeang melawan pendjadjah oentoek mereboet tanah air ini dari tangan Belanda dan segera mewoejoedkan kemerdekaan jang oetoeh bagi seloeroeh rakjat.

Perjoeangan dilakoekan dengan patriotisme jang tinggi hingga titik darah penghabisan. Perlawanan merata ke seloeroeh pendjoeroe tanah air. Dari desa hingga ke kota, dari kalangan petani hingga kaoem cendekiawan terpelajar, dari berbagai soekoe dan agama. Seloeroeh rakjat bersatoe mengoesir pendjajah oentoek mengembalikan kedawlatan bangsa ini.

Akhirnya Repoeblik ini berdiri tegak pada tanggal 17 Agoetoes 1945 jang diproklamirkan oleh Boeng Karno atas desakan poetra dan poetri bangsa ini. Soekarno pun menjadi pemimpin Revolusi jang membawa bangsa ini menoejoe pintoe kemerdekaan.

Paska "Kemerdekaan"
Soekarno sebagai Pemimpin Pertama Republik ini menahkodai bangsa ini dengan semangat yang sangat revolusioner. Seluruh anak bangsa negeri inipun serta merta bahu membahu membenahi tatanan Republik ini walau masih harus berjuang melepaskan intervensi yang masih saja dilakukan oleh Belanda hingga beberapa tahun setelah kemerdekaan Republik ini dikumandangkan.

Tiba-tiba saja Republik ini kembali bertumapah darah pada tahun 1948. Namun bukan dalam rangka melawan penjajah, tetapi lebih tepat bila dibilang perang saudara. Perseteruan terjadi karena rivalitas kelompok kiri yang dipimpin Muso yang 'menuding' Pemerintahan Republik yang dipimpin Soekarno telah berkompromi dengan Amerika atau dipengaruhi oleh Amerika.

Pada era ini aksi saling menculik dan membunuh mulai terjadi, dan masing-masing pihak menyatakan, bahwa pihak lainlah yang memulai. Banyak reska perwira TNI, perwira polisi, pemimpin agama, pondok pesantren di Madiun dan sekitarnya yang diculik dan dibunuh. Namun tidak lama Muso dkk 'tumbang' oleh TNI di Madiun, hingga disebut Peristiwa Madiun. Baru setelah pemerintahan Orde Baru yang dipimpin oleh Soeharto peristiwa tersebut diganti namanya menjadi Pemberontakan PKI di Madiun.

Belum surut euforia kemerdekaan yang dirasakan bangsa ini selama dua dasawarsa, lagi-lagi Republik ini kembali bersimbah darah. Sejarah hitam kembali terjadi pada tahun 1965. Beberapa orang Jendral Petinggi TNI tewas dibunuh dengan keji, oleh siapa yah?. Sampai saat ini tidak jelas siapa yang menjadi otak atau sutradara di balik peristiwa tersebut. PKI? BOHONG!, penulis tidak percaya sama sekali.

Bannyak yang beranggapan peristiwa ini masih 'terkait' dengan Peristiwa Madiun 1948. Bukankah MUSO dan kelompoknya sudah lumpuh?. Jangan-jangan ada konspirasi tingat tingkat internasional yang tidak ingin paham komunis berkembang di Indoneia. Sebab saat itu PKI menjadi Partai terbesar dengan pendukung kelas proletariat yang menjadi musuh besar Kapitalisme Barat. PKI berkembang pesat di Indonesia. Terbukti pada Pemilu pertama tahun 1955, PKI mendulang suara 16% dari keseluruhan suara, menempati posisi ke empat. Partai ini memperoleh 39 kursi (dari 257 kursi yang diperebutkan) dan 80 dari 514 kursi di Konstituante.

Menjalani 'kemerdekaan'?
Sejarah telah diabu-abukan. Peristiwa tersebut masih menyisakan banyak pertanyaan yang belum terjawab dengan jelas sampai sudah 67 tahun Republik ini katanya 'merdeka'. Betul kah?. Fakta yang nyata hanyalah bahwa setelah peristiwa G30S/? (baca: Gerakan Tiga Puluh September Tandan Tanya) tersebut, Soekarno 'dilengserkan' oleh kekuatan kelompok baru yang bermerek Orde Baru. Dengan menyebut Era Soekarno sebagai Orde Lama.

Betulkah Komunis menjadi brutal dan tidak manusiawi hingga melakukan aksi genosaid? Betulkah kaum proletar yang kebanyakan kelompok tani mampu melakukan tindakan-tindak sadism dengan melakukan serangkaian pembunuhan terencana dan terstruktur serta tersekenario dengan apik. Di sisi lain ada kecurigaan publik kalangan terpelajar bahwa ada intervensi USA melalui CIA ke Indonesia untuk menumpas aliansi rival besarnya di muka bumi ini yang bernama bangsa Uni Soviet?. Dimana ditenggarai bahwa Muso, Aidit dan seluruh kawan-kawan kiri berafiliasi ke komunis titisan Lenin tersebut.

Dengan 'menumbangkan' kedinastian Soekarno setelah dua dasawarsa memimpin Republik ini, akhirnya Soeharto si 'smiling jenderal' merebut atau mengambil alih atau melakukan junta atau apalah istilahnya, kekuasaan kemudian dikendalikan oleh Soeharto yang memanfaatkan Supersemar sebagai alasan untuk mengendalikan kondisi instabilitas yang terjadi di Republik ini.

Sandiwara babak Orde Baru dimulai
PKI tumpas oleh kekuatan militer yang nampaknya didukung oleh Amerika dan disertai hasutan kepada pengikut partai yang berbasis agama untuk menumpas faham komunis yang dinilai telah melakukan beberapa kali pemberontakan terhadap pemerintahan yang sah? betulkah demikian?. Sejarah tersebut tetap saja menghitam hingga sekarang.

Seakan semua anak bangsa ini menjadi trauma dan 'mentabukan' walau sekedar ingin mengetahui peristiwa sesungguhnya.Sebab pemerintahan Orde Baru mampu 'menyulap' cerita '65 menjadi cerita yang mencuci otak generasi angkatan '70an bahkan hingga sekarang.

Soeharto mulai menahkodai Republik ini dari Sabang hingga Merauke, bahkan hingga merampas Timor Leste dari Portugal mulai tahun 1975.

Soeharto ternyata muncul menjadi sosok penguasa yang otoriter. Selama 32 tahun memimpin Republik ini, tidak boleh ada yang bisa membantah perintahnya yang bagai titah seorang raja. Kekuasaanya masif hingga ke seluruh tingkat hirarki birokrasi, bahkan parlemen sekalipun bisa dia 'pimpin' dengan tanpa ada perlawanan.

Berbagai peritiwa berdarah terjadi silih berganti di Republik ini di berbagai daerah. Mulai Peristiwa  perebutan lahan atau tanah adat, peristiwa pemberangusan keyakinan-keyakinan lokal, pemberangusan kelompok-kelompok atau ormas-ormas kiri, pembredelan media-media kritis, penculikan mahasiswa dan aktivis-aktivis prodemokrasi, hingga pembunuhan-pembunuhan misterius yang terkadang kasusnya hanya melintas begitu saja tanpa ada kata keadilan.

Nyaris Seumur hidup
Presiden Soeharto tak tergantikan, semakin kokoh memang manakala Amerika selalu memback-up dengan jaminan investasi atau sokongan dana untuk pembangunan ekonomi dan pembangunan fisik Republik ini. Seluruh kelompok yang berlawanan dengan dia tidak berani melawan secara frontal, kalau masih ngeyel tak ada tawar menawar ya...MATI.

Bahkan Partai Demokrasi Indonesia atau PDI yang dipimpin oleh putri Bung Karno, yaitu Megawati ditenggarai juga 'diobok-obok' oleh Soeharto. Dia beranggapan bahwa PDI telah menjadi tempat "berkembang biak" kelompok kiri yang semakin kuat dimana belakangan muncul kembali gerakan-gerakan yang cenderung menjadikan tokoh Soekarno sebagai simbol perlawanan kepada Soeharto dan berkembang di tubuh PDI. Kader Partai yang Pro Mega akhirnya mengganti nama Partai tersebut menjadi PDI Perjuangan setelah konflik 27 Juli 1996 di internal partai PDI.

Peristiwa 27 Juli 1996 adalah peristiwa pengambilalihan secara paksa kantor DPP PDI di Jl Diponegoro 58 Jakarta Pusat yang saat itu dikuasai pendukung Megawati Soekarnoputri. Penyerbuan dilakukan oleh massa pendukung Soerjadi (Ketua Umum versi Kongres Medan) serta dibantu oleh aparat dari kepolisian dan TNI. Peristiwa tersebut juga penuh muatan rekayasa politik.

Penindasan serta kesewenang-wenangan terus menjadi cerita kelam dan sandiwara yang selalu menakutkan untuk dibahas. Kisah buruh Marsinah yang tewas dibunuh dengan cara mengenaskan, kisah 'pencabutan nyawa' para aktivis kemanusiaan, pembunuhan kelompok separatis yang membangkang untuk menuntut kemerdekaaan terus berlanjut, namun tidak sekalipun menyurutkan nyali para kelompok kiri pro demokrasi untuk tetap melakukan perlawanan dengan berbagai macam cara.

Agitasi, propaganda, aksi-aksi demintrasi, hingga aksi protes turun ke jalan serta aksi kritik melalui media tulis, seni musik atau teaterikal kelompok seniman jalanan dan panggung. Kampus-kampus pun menjadi ruang yang tetap tidak 'aman' untuk melakukan konsolidasi kelompok diskusi.

Hingga pada akhirnya pada bulan Mei tahun 1998 dibarengi kondisi semakin terpuruknya ekonomi bangsa dan drastinya inflasi yang 'menukik' hingga ke level dimana rakyat di Republik ini semakin kelaparan. Gejolak gerakan rakyat dan mahasiswa tak terelakan lagi. Kemarahan rakyat mengkristal akibat kejenuhan yang telah 32 tahun mengekang bangsa ini untuk diam dan tak boleh melawan.

REFORMASI 1998, Soeharto tidak tumbang  
Sebuah gerakan people power nyaris menjadi embrio revolusi memuncak setelah kerusuhan yang hampir terjadi di seluruh kota besar di Indonesia. Penjarahan besar-besaran oleh rakyat yang telah lapar, perampokan toko-toko dan pusat perbelanjaan, pemerkosaan dan pembunuhan etnis tionghoa terjadi akibat diskriminasi yang mengakibatkan kecemburuan sosial yang sangat timpang.

Tuntutan lengsernya Soeharto dengan jargon-jargon Gantung Soeharto (TUNGTO) dan REVOLUSI! menggema lantang dari 'toa-toa' korlap aksi-aksi kelompok dan elemen gerakan rakyat dan mahasiswa tak henti-hentinya turun ke jalan meninggalkan rumah dan kampus. Mahasiswa dan rakyat berhasil menduduki Gedung DPR/MPR beberapa hari sebelum Soeharto .

Soeharto akhirnya mengundurkan diri pada tanggal 21 Mei 1998 atas desakan rakyat, mahasiswa dan pelajar, kemudian menyerahkan 'singgasana' kekuasaanya ke Habibie yang saat itu menjadi wakilnya. Euforia publik hingga harus menteskan banjiran air mata. Sorak sorai rakyat Indonesia bergemuruh ke seluruh penjuru tanah air. Seakan kemerdekaan sesungguhnya telah diraih karena ternyata selama 32 tahun negeri ini hanya merasakan kemerdekaan semu setelah lepas dari penjajahan Belanda.

Lalu kemudian Habibie menahkodai kapal yang nyaris 'karam' akibat goncangan badai dan gelombang keterpurukan ekonomi. Hingga Sidang Istimewa DPR berlangsung, ternyata kroni-kroni Soeharto masih 'tunduk' untuk menjalankan 'titah' sang Smiling Jendral. Berbagai manuver politik terus bergejolak dalam Sidang Istimewa. Ahirnya SI memutuskan untuk melakukan Pemilu Ulang yang akhirnya memilih Gusdur sebagai Presiden ke 4 Republik ini menggantikan Habibie

Gusdurpun tak bertahan lama, 2 tahun meminpin negeri ini Abdulrahman Wahid juga dilengserkan oleh lawan politiknya karena merasa kebijakan-kebijakan Gusdur yang tidak populis bahkan merugikan bagi partai-partai Islam. Dan yang terkesan lebih kontroversial ketika Gusdur berani membekukan Partai Golkar, partai besar yang 'diasuhan' Sohoerto selama 30 tahun lebih . Gusdurpun lengser walau dengan spekulasi mendekrit DPR. Konspirasi besar terjadi lintas partai.

Megawati selaku wakil lantas menggantikan Gusdur menjadi Presiden ke 5 RI hingga 2004. Namun pada Pemilu 2004, sistem demokrasi di Republik ini melakukan kemajuan satu langkah dengan memilih Presiden oleh masyarakat secara langsung. Tidak lagi di tingat parlement yang selama ini dinilai hanyalah merupakan "sandiwara rumah rakyat".

Pemilihan Presiden secara langsungpun dilakukan, tak dinaya Soesilo Bambang Yudoyono atau SBY yang pernah dipecat oleh Gusdur dari jabatannya sebagai Menteri Pertambangan dan Energy bersama Jusuf Kala memenangkan pertarungan melawan saingan kuatnya Megawati. Namun ada cerita yang ganjil, kematian Munir membuahkan tanda tanya bersar terkait kenaikan SBY menjadi Presiden RI sebagai calon dari militer. Seorang aktivis kemanusiaan tewas mengenaskan diracun saat terbang menuju Belanda dalam rangka menuntaskan study di Belanda. Ada apa dengan kematian Munir? Apa hubunganya dengan issue KONTRAS yang selalu mengangkat kasus-kasus kekerasan yang dilakukan oleh militer atas kepentingan penguasa.

Begitu juga Pemilihan presiden 2009, Lagi-lagi SBY unggul telak atas saingan-sainganmya. SBY dengan 'obralan kharismanya' mampu memenangkan Pemilu dengan memboyong Boediono menjadi calon Wakil Presiden. Mengapa Budiono yah? Apakah ada kepentingan dibalik ini semua dimana Boediono tidak cukup populer di panggung politik namun menjadi pilihan SBY unt menjadi wakilnya. Seorang mantan Gubernur Bank Indonesia ini mampu mendongkrak eletabilitas pasangan SBY. Apanya yang lebih dari seorang Budiono? uangnya kah? memang Budiono kaya yah? Konon kabarnya kemenangan SBY dimodali oleh dana besar yang diplintir-plintir dari sebuah bank bermasalah. Uhhhffff.....Century kah?

Republik Korup
SBY  hanya "bermanis mulut' untuk meberantas korupsi. Segudang kasus korupsi yang dilakukan oleh kader-kader partai-partai besar seperti Golkar dan Partai 'asuhanya' Demokrat tidak pernah tuntas. Segudang aset bangsa ini digerogoti oleh barisan-barisan elit 'didikan' dinasti Orde Baru. SBY adalah 'murid' Soeharto. Artinya secara tidak langsung elit-elit politik sekarang adalah 'ajaran' Soeharto.

SBY 'memelihara' banyak kader-kader korup. Semangat Reformasi semakin pudar, sistem tidak berubah, perilaku aparatur negara tidak ada ubahanya seperti jaman Orde Baru yang bermental korup. Semua lapisan hirarki birokrasi korup secara terang-terangan. Ekonomi bangsa ini semakin terpuruk. Anak bangsanya terbuai mimpi menjadi TKI di luar negeri hingga meninggalkan sawah, ladang dan ternaknya untuk mengadu nasib di negeri orang bahkan dianiaya dan tidak dibela oleh Pemimpin bangsanya.

Perkembangan ekonomi sesungguhnya semu. Rumah dan segala isinya, kendaraan roda empat dan roda dua yang kita miliki semuanya adalah hutang negara. Bumi dan segala isinya telah dimonopoli oleh investor-investor besar kelas internasional. Air bersihpun harus kita beli. Kita tidak bisa lagi mencipta, menjadi manja dengan membeli ini dan itu yang diimpor dari luar. Mental konsumtif menjadi budaya dan pada akhirnya kita akan menjadi budak di negeri sendiri.

Konflik sosial tetap mewarnai pelangi negeri ini. Proses demokrastisasi memakan biaya yang mahal dan korban nyawa yang sangat besar. Perbedaan selalu saja mengorbankan nyawa. Kekerasan masih menjadi penyelesaian suatu kasus. Premanisme dipelihara dan dijadikan alat untuk mewujudkan keinginan-keinginan atau kepentingan tingkat elit.

Lalu, pernah kah kita merasakan kemerdekaan yang sesungghunya? Setelah bangsa lain menjajah negeri ini secara langsung, kini bangsa ini dijajah oleh bangsanya sendiri yang juga diintervensi oleh bangsa lain. Dengan katai lain, bangsa Indonesia ini tetap terus terjajah. Namun kini bentuknya adalah penjajahan ekonomi. Kita tidak sadar, bahwa investasi besar-besaran atau intervensi ekonomi pasar bebas berdampak terhadap kedaulatan negeri ini. Bagaimana korelasinya?.

Analoginya sederhana saja....Bangsa ini bodoh di tengah luasnya lautan yang mengandung protein tinggi. Bangsa ini haus di tengah jutaan mata air dan derasnya air terjun serta banyaknya kubangan air tawar. Dan bangsa ini kelaparaan di tengah bentangan luasnya daratan subur.     
      
Kmerdekaan yang utuh masih hanya sebatas impian
Selamat Ulang Tahun Tanah Tumpah Darahku yang ke 67.

No comments:

Post a Comment