Adalah sebuah istilah popoler yang sangat trend di kampung halaman saya Kecamatan Laguboti, Kabupaten Tobasa, Sumatera Utara. Istilah ini menarik perhatian saya. Beberapa kali istilah ini saya dengar dalam beberapa pembicaraan pendek di tengah-tengah masyarakat kecamatan Laguboti. Apalagi dalam konteks guyon maupun dalam konteks yang sangat serius bagi sebagian masyarakat secara umum.
Ketika pertama kali saya mendengar istilah kalimat ini, saya sempat tanda tanya dalam hati? Apa maksud dari kalimat pendek tersebut?. Dengan mudah saya menyimpulkan...oh karena hari itu adalah hari pekan di kecamatan Laguboti.
Dan ternyata di beberapa kecamatan di Kabupaten Tobasa yang mana hari-hari lain seperti selasa, rabu, kamis , jumat dan sabtu juga menjadi "Hari Gizi" di daerah tersebut. Setiap minggu hal ini berlaku di setiap kecamatan. Mengapa demikian?
***Hari Pekan***
Hari pekan adalah hari kegiatan ekonomi, khususnya transaksi pasar secara besar-besaran terjadi. Putaran ekonomi pada hari itu sangat tinggi. Kegiatan masyarakatpun lebih sibuk dibandingkan hari-hari biasa.
Para petani mengantar hasil tani dan kebunnya ke pasar untuk dijual lalu kemudian membeli kebutahan lain untuk dibawa ke kampungnya. Para peternak juga membawa hasil ternaknya ke pasar untuk dijual lalu membeli bahan keperluan yang lain. Para pekerja jasa juga membuka lapaknya di hari tersebut. Begitulah guliran putaran ekonominya.
Dan sebagian pedagang tersebut ada yang ikut berdagang ke kecamatan lain di hari-hari berikutnya. Seperti hari selasa di Siborong-borong, Hari rabu di Porsea, hari kamis di Silaen, hari jumat di Balige dan Dolok Sanggul, dan hari sabtu di Tarutung. Bahkan hari Minggu di Silimbat.
***HARI GIZI***
Lalu apa makna Hari Gizi sesungguhnya?
Karena hari itu merupakan hari transaksi pasar tentunya hari itu pula kesempatan bagi masyarakat setempat untuk menikmati makanan yang lebih bervariasi dan tentunya lebih banyak jenis jajanan dan juga variasi kualitasnya. Karena pedagang makananpun saat itu lebih banyak dibandingkan hari-hari biasa.
Namun yang menjadi semakin menarik bagi saya adalah, saya menyimpulkan bahwa ternyata setiap hari adalah Hari Gizi di kawasan Tapanuli ini bagi para pedagang dan pekerja jasa yang terlibat dalam kegiatan ekonomi ini.
Artinya, mereka yang terlibat dalam kegiatan ini selalu makan makanan yang 'bergizi'. Soal makna bergizi dinilai dari konteks rasa yang enak atau soal harga yang 'tidak pernah bohong' adalah tidak menjadi persoalan, yang penting adalah kepuasana.
Pada akhirnya saya menyimpulkan bahwa sesungguhnya masayarakat Tapanuli adalah masyarakat yang sangat menuntut kualitas makanan. Dan secara historis hal ini merupakan budaya yang turun temurun dari nenek moyang orang Batak dahulu.
Mengapa saya simpulkan demikian, karena memang ternyata makanan khas tapanuli sangat bervariasi dan kaya akan kandungan bumbu dari rempah-rempah alami dari tanaman khas tropis, bahkan beberapa di anataranya adalah tanaman endemik Tapanuli atau Tanah Batak yang tidak tumbuh di daerah-daerah lain, sebut saja diantaranya andaliman, antarasa, bawang batak, dll.
Naniura, Natinombur, Napinadar, Naniarsik, dan masih banyak lagi istilah cara masak khas kuliner Batak yang belum saya pahami bahkan belum saya rasakan. Untuk itu selanjutnya saya akan lebih banyak belajar lebih dalam untuk memahamai dan pastinya merasakan makanan-makanan khas kampung halaman saya ini.
#SalamKulinerKhatulistiwa
Partoba Pangaribuan
No comments:
Post a Comment